PENELITIAN MENUNJUKAN NASI PUTIH SEBABKAN DIABETES

Sebuah tinjauan empat peneliti yang melibatkan kurang lebih 350.000 orang menemukan nasi putih lebih poly dikonsumsi orang. Orang Asia cenderung memiliki asupan nasi putih jauh lebih tinggi yaitu 3 sampai empat porsi per hari.
Sedangkan orang Barat, hanya satu atau dua porsi per minggu. Hasil penelitian yang dilakukan sang pakar asal Harvard School of Public Health, serta Harvard Medical School, dua studi dari Asia (China dan Jepang), dan dua asal Barat (AS serta Australia) menunjukkan bahwa orang Asia mempunyai kesempatan lebih tinggi terkena diabetes tipe 2.

Hasil gambar untuk puasa mutih
source image: commons.wikimedia.org

Sementara populasi Barat biasanya rendah. Para peneliti berkata, dilansir page Independent, Jumat (26/8/2016), “Konsumsi nasi putih relatif tinggi, dan itu mempertinggi risiko diabetes.”
pada total populasi, para ahli berkata bahwa setiap porsi ekstra nasi putih (dengan asumsi 158g per porsi) risiko diabetes tipe dua meningkat kurang lebih 11 %. Penulis pada British Medical Journal menyimpulkan, “Kami menemukan bahwa konsumsi beras putih lebih tinggi dikaitkan menggunakan risiko yang signifikan dari diabetes tipe dua. Ini sepertinya lebih bertenaga di Asia daripada populasi Barat.”
Dr Glenys Jones, ahli gizi di Medical Research Council’s Human Nutrition mengatakan, “Sangat penting buat dicatat bahwa studi ini tidak menunjukkan atau menunjukan bahwa konsumsi beras putih menyebabkan diabetes.”
Dr Frame, direktur penelitian diabetes di UK mengungkapkan, “Penelitian baru ini artinya review penelitian sebelumnya yg mengamati hubungan antara konsumsi beras putih serta diabetes tipe dua. Tapi belum terlihat apakah makan nasi putih sebenarnya menaikkan risiko diabetes tipe 2 atau tidak.”
“beras merupakan karbohidrat khas yg menyertai makanan, terutama di populasi Asia. Menjadi konsultan diabetes, Anda hanya ditekankan perlunya manajemen berat badan untuk mencegah diabetes, dan penurunan berat badan menjadi bagian penting asal tipe 2 manajemen diabetes, ujar Dr Katarina Kos, konsultan kehormatan di diabetes dan endokrinologi di Peninsula College of Medicine, dan Kedokteran Gigi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*